Kamis, 08 Agustus 2013

Never Lose Hope in Allah

There is a major barrier that’s blocking many Muslims from getting closer to Allah and improving their relationship with Him. This barrier is losing hope in the mercy of Allah. Sometimes people think that Allah will never forgive them because of the multitude of their sins. As a result, they slacken in performing their acts of worship and some even abandon them as they lose hope in attaining the mercy of Allah. However, Allah, The Exalted has said:

“Say, ‘O My servants who have transgressed against themselves [by sinning], do not despair of the mercy of Allah. Indeed, Allah forgives all sins. Indeed, it is He who is the Forgiving, the Merciful.’” (Surah Az-Zumar, Ayah 53)”

What we need to understand is that no one is perfect and part of being imperfect is falling into errors, including committing sins. Because committing sins is a part of our design, that is why Allah’s most emphasized attribute is His Mercy. It is a fact that mankind will commit sins. The Prophet Muhammad (SAW) said, “All humans are sinners and the best sinners are those who repent much.” (Recorded in Abu Dawood)

It should also be noted that there are several stories in the Qur’an and Hadith about people who committed dreadful crimes and were forgiven when they repented and sought forgiveness from Allah.

So, what we must do is recognize that Allah is the Most Merciful. We cannot abandon Allah due to our sins because no one is exempt from committing sins. At the same time, we shouldn’t use Allah’s Mercy as anexcuse to commit sins. However, we should always have hope in the fact that no matter what we do, or how massive our sins are, Allah will always forgive them if we turn to Him sincerely in repentance and try our best to please Him. It is because of His mercy He made us to sin so that we can turn to Him for forgiveness and get closer to Him. Hence, we should never lose hope in attaining His mercy.

Remember to repent and seek forgiveness before it is too late as we do not know the time of our departure from this world.

The Prophet (SAW) said, “Allah the Almighty said:

“O son of Adam, so long as you call upon Me and ask from Me, I shall pardon you for what you have done, and I wouldn’t care. O son of Adam, were your sins to reach the clouds of the sky and were you then to ask forgiveness of Me, I would forgive you. O son of Adam, were you to come to Me with sins nearly as great as the earth and were you then to face Me, ascribing no partner to Me, I would bring you forgiveness almost as great as it.’” (Tirmidhi)”

Kamis, 01 Agustus 2013

Waktu yang Tersisa

Suatu hari di sebuah rumah sakit, tampak seorang nenek berumur sekitar 70 tahunan, tiba di rumah sakit dengan tergesa-gesa, segera dia mendaftarkan diri di bagian administrasi rumah sakit sebagai pasien dokter penyakit dalam , dan tidak lama kemudian… si nenek berjalan tertatih membawa kartu pasien dan menghampiri suster yang berada di depan ruang praktek si dokter untuk memberitahu kedatangannya dan memberikan nomer urut antriannya.

"Suster, sekarang pasien nomer berapa? Giliran saya masih harus menunggu berapa lama untuk ketemu dokter?" Tanya si nenek. "Tunggu saja nek, nanti dipanggil sesuai nomer urut" jawab si suster begitu saja. Rupanya nenek adalah pasien lama di sana sehingga tanpa banyak bertanya lagi, ia pun menempati bangku, bersama-sama dengan pasien lain menunggu giliran di panggil. Selang beberapa saat, sikapnya terlihat gelisah, sebentar-bentar dia melihat ke jam dinding, mulai mondar-mandir seolah tidak sabar menanti. Diberanikan diri menghampiri suster dan bertanya dengan was-was karena takut si suster marah. "Masih lama ya sus?" "Ya! Tunggu saja" jawab suster.

Saat giliran nomer urutnya sudah dekat, tiba-tiba ada panggilan darurat dari rumah sakit karena ada pasien gawat yang harus segera ditangani sang dokter. Bergegas dokter pun pergi meninggalkan ruang prakteknya untuk menolong pasien yang lebih membutuhkannya. Si nenek dengan kesal kembali duduk, kemudian berdiri, lalu mulai berjalan mondar-mandir.

Kejadian itu memancing reaksi 2 remaja yang juga sedang menunggu di situ, "Si Nenek itu kelihatan gelisah dan tidak sabaran ya. Sudah setua itu memangnya dia punya kesibukan apa kok menunggu aja tidak sabar begitu" Kemudian ditimpali oleh temannya, "Iya tuh, udah berumur setua itu, ngapain sih kok maunya buru-buru. Waktu kan masih panjang, belum juga larut malam".

Dengan tidak terduga oleh kedua remaja tadi, si nenek menghampiri mereka dan menyapa ramah, "Anak muda, nenek mendengar apa yang kalian bicarakan tentang nenek. Memang nenek kurang sabar menunggu disini tanpa melakukan sesuatu. Justru karena nenek sudah berumur, nenek tidak memiliki banyak waktu lagi untuk melakukan hal-hal yang belum sempat nenek lakukan. Kesadaran bahwa sisa waktu nenek yang tidak banyak inilah maka nenek tidak sabar menunggu di sini terlalu lama tanpa bisa melakukan apapun. Tentu kalian bisa mengerti kenapa nenek tidak sabar menunggu kan?"

"Oh, iya.. iya nek. Maafkan kami nek. Kami tidak berpikir panjang tentang waktu yang begitu berharga seperti kata nenek. Sepantasnya kami yang muda pun harus berpikir tidak boleh menyia-nyiakan waktu dengan tidak melakukan apa-apa seperti ini. Terimakasih nenek telah mengingatkan kepada kami".

Pembaca yang berbahagia,

Umur manusia tidak ada seorangpun yang bisa mengukur secara tepat, kapan saat kita lahir dan kapan saat kematian tiba. Jika kesadaran tentang nilai waktu, yakni akan sisa waktu yang dimiliki dan mau memanfaatkan dengan benar sesuai dengan peran kita saat ini, dimanapun kita berada, maka saat itulah kehidupan se-nyatanya baru dimulai.


Waktu adalah kekayaan paling berharga yang dimiliki setiap manusia

Mari kita manfaatkan waktu dengan optimis dan diarahkan pada sasaran hidup yang menantang, sehingga membuat hidup kita semakin hidup, penuh gairah dan bahagia!